Obsessive Compulsive Disorder
Menjadi penyandang Obsessive
Compulsive Disorder membuatku sering menyakiti diri sendiri karena takut tidak
melakukan sesuatu dengan sempurna. Seperti diharuskan menyusun kepingan Puzzle
di dalam kepala yang berada di tepi jurang yang perlahan akan hancur jika aku tidak menyelesaikannya
secepat yang aku bisa. Selalu di kejar dan di tuntut pikiran sendiri.
Orang-orang menjauhiku karena ketakutkan akan keringat dingin yang keluar dari sekujur tubuhku. Tubuhku bergetar hebat hanya karena merasa gula dalam tehku kurang dari 1420 butir dan aku tak henti-hentinya menghitung satu-persatu gula yang masuk ke dalam cangkir tehku.
Tapi di kali pertama aku melihatnya, semua suara di dalam kepalaku mendadak begitu tenang. Segala gaduh dan teriakan melengking tiba-tiba senyap dan hilang begitu saja, hening seketika. Segala detik jam yang berdetak keras di kepalaku, segala rasa menggigil karena merasa selalu dikejar waktu, semua gambaran akan ketidak-sempurnaan, mendadak hilang dalam kesenyapan yang begitu tenang.
Ketika kalian menjadi penyandang Obsessive Compulsive Disorder, kalian tidak akan pernah mengalami ketenangan dan kesunyian di dalam kepala. Telinga kalian serasa berdengung, kepala kalian seperti selalu dikejar pembunuh dari film Friday 13th jika tidak melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Bahkan ketika dalam tidur, aku masih sering dibuat ketakutkan perihal apakah aku sudah mengunci pintu atau belum, sudah mengunci pintu atau belum, sudah mengunci pintu atau belum, sudah mengunci pintu atau belum, apakah aku sudah mencuci tanganku dengan bersih, apakah aku sudah mencuci tanganku dengan bersih, apakah aku sudah mencuci tanganku dengan bersih, apakah aku sudah mencuci tanganku dengan bersih. Dan aku melakukannya lebih dari 100 kali dalam sehari. Tepatnya untuk mencuci tangan 138 kali. Dan mengecek untuk mengunci pintu 48 kali.
Tapi ketika aku melihatnya, hal pertama yang melintas di kepalaku adalah tentang lekuk bibirnya. Tentang kelopak matanya, tentang bagaimana rambutnya jatuh begitu sempurna di pipinya. Saat itu aku menyadari, bahwa aku harus benar-benar berbicara kepadanya. Dan aku melakukannya.
Aku mengajaknya keluar sebanyak 6 kali dalam waktu 30 detik. Dia mengatakan Iya pada permintaanku yang ke tiga, namun aku merasa aku belum melakukannya dengan sempurna hingga aku terus mengajaknya keluar sebanyak 5 kali lagi lebih banyak.
Biasanya orang-orang akan merasa aneh dan ketakutkan ketika aku mengulang kata-kataku berulang-ulang kali, namun ia berbeda. Ia tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Ini adalah kali pertama di mana aku merasa telah melakukan sesuatu dengan benar. Di moment itu aku merasakan apa yang namanya tenang.
Di kencanku yang pertama, aku menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyusun makananku agar bentuknya terlihat seimbang dan selaras dengan warna-warna makanan punyaku ketimbang memakannya atau bahkan berbicara dengannya. Tapi anehnya ia menyukainya.
Ia menyukai bagaimana aku mencium bibirnya 18 kali atau bahkan 36 kali kalau itu hari rabu. Dia menyukai menghabiskan waktu yang sangat lama ketika mengajakku jalan-jalan ke taman bermain hanya karena aku sering diam ketika melihat banyak sekali retakan-retakan di aspal jalanan.
Ketika ia tinggal bersamaku, ia mengatakan kepadaku bahwa ia merasa aman dari pencuri karena aku selalu memastikan apakah aku sudah mengunci pintu atau belum lebih dari empat puluh kali. Aku selalu memperhatikan bibirnya ketika ia sedang berbicara. Ketika ia berkata bahwa ia mencintaiku, berkata bahwa ia mencintaiku, berkata bahwa ia mencintaiku, berkata bahwa ia mencintaiku, berkata bahwa ia mencintaiku, ketika itu bibirnya selalu bergelombang di tiap sisinya.
Setiap malam, ia tertidur dan melihatku menyalakan lampu lalu mematikannya lagi, menyalakannya lagi, lalu mematikannya lagi, lalu menyalakannya lagi, lalu mematikannya lagi, lalu menyalakannya lagi. Ia tak mempermasalahkan hal itu, ia malah menutup mata dan berimajinasi tentang siang dan malam hari yang terjadi begitu cepat di kamar kami.
Suatu pagi, seperti biasa aku menciumnya berulang kali. Namun kali ini ia pergi begitu saja. Ia mengatakan bahwa aku membuatnya terlambat datang ke kantor. Ketika aku terdiam melihat retakan di aspal jalan, ia tidak berhenti dan menemaniku. Ia tetap berjalan begitu saja. Berlalu begitu saja. Entah.
Ketika ia mengatakan bahwa ia mencintaiku, mulutnya tidak lagi bergelombang, mulutnya justru terlihat datar. Ia mengatakan bahwa aku ini terlalu banyak bicara dan itu menghabiskan waktunya. Minggu lalu, ia mulai tidak lagi tinggal di rumahku. Ia kembali tinggal di rumah neneknya.
Ia mengatakan kepadaku agar aku melepaskannya pergi karena ia merasa bahwa aku begitu terikat dengannya, karena aku begitu menggenggamnya erat-erat. Ia berkata bahwa semua yang telah kami lalui bersama kemarin adalah suatu kesalahan. Suatu kesalahan.
Tapi bagaimana bisa aku merasa bahwa mencintainya itu sebuah kesalahan?! Sebab setiap kali aku menyentuh apapun aku selalu mencucinya, aku telah terobsesi terhadap sesuatu, aku merasakan sekali setiap bakteri-bakteri yang merasuk masuk ke dalam sela-sela kulitku, aku melihat diriku berdiri di tengah jalan tertabrak mobil yang tak henti-hentinya, aku selalu melihat diriku berada di tepi jurang dan hanya tinggal masalah waktu saja sebelum aku jatuh ke dalamnya. Dan dia adalah satu-satunya orang yang aku tidak merasa harus mencuci tanganku ketika habis menyentuh kulitnya.
Jatuh cinta bagiku bukanlah sebuah kesalahan.
Dan kenyataan bahwa kini ia telah pergi meninggalkanku benar-benar membunuhku. Segala detak dan detik di kepalaku menjadi semakin tak terkendali. Bunyinya makin gila. Aku benar-benar tak bisa. Benar-benar tidak sanggup!
Aku tidak bisa pergi keluar dan menemukan seseorang yang baru karena aku selalu memikirkannya lagi dan lagi dan lagi.
Tapi dia! Dia adalah hal terindah pertama yang pernah terpahat di kepalaku. Satu-satunya hal indah yang bisa kepalaku ingat secara terus-menerus.
Aku ingin bangun di pagi hari memikirkan bagaimana ia pelan-pelan menyalakan kompor dan memecahkan telur dengan begitu rapih tanpa harus mengulanginya berkali-kali seperti yang sering aku lakukan. Bagaimana ia memutar knop pintu dengan begitu lembut seperti ia tengah membuka sebuah brangkas. Bagaimana caranya meniup lilin tanpa dihantui ketakutkan bahwa lilin itu belum sepenuhnya mati dan akan menyala lagi.
Sekarang aku berpikir akan ada orang yang menggantikan tempatku, seseorang yang akan mencium bibirnya, menggantikanku. Aku benar-benar tidak bisa bernapas karena aku tahu laki-laki itu hanya akan menciumnya sekali saja; tidak sepertiku. Laki-laki itu benar-benar tidak peduli apakah ciumannya itu sudah sempurna atau tidak.
Aku benar-benar menginginkannya kembali.
I want her back so bad.
Bahkan aku membiarkan pintuku tidak terkunci.
Bahkan aku membiarkan lampu kamarku terus menyala.
inspired from Neil Hilborn poem’s.
Orang-orang menjauhiku karena ketakutkan akan keringat dingin yang keluar dari sekujur tubuhku. Tubuhku bergetar hebat hanya karena merasa gula dalam tehku kurang dari 1420 butir dan aku tak henti-hentinya menghitung satu-persatu gula yang masuk ke dalam cangkir tehku.
Tapi di kali pertama aku melihatnya, semua suara di dalam kepalaku mendadak begitu tenang. Segala gaduh dan teriakan melengking tiba-tiba senyap dan hilang begitu saja, hening seketika. Segala detik jam yang berdetak keras di kepalaku, segala rasa menggigil karena merasa selalu dikejar waktu, semua gambaran akan ketidak-sempurnaan, mendadak hilang dalam kesenyapan yang begitu tenang.
Ketika kalian menjadi penyandang Obsessive Compulsive Disorder, kalian tidak akan pernah mengalami ketenangan dan kesunyian di dalam kepala. Telinga kalian serasa berdengung, kepala kalian seperti selalu dikejar pembunuh dari film Friday 13th jika tidak melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Bahkan ketika dalam tidur, aku masih sering dibuat ketakutkan perihal apakah aku sudah mengunci pintu atau belum, sudah mengunci pintu atau belum, sudah mengunci pintu atau belum, sudah mengunci pintu atau belum, apakah aku sudah mencuci tanganku dengan bersih, apakah aku sudah mencuci tanganku dengan bersih, apakah aku sudah mencuci tanganku dengan bersih, apakah aku sudah mencuci tanganku dengan bersih. Dan aku melakukannya lebih dari 100 kali dalam sehari. Tepatnya untuk mencuci tangan 138 kali. Dan mengecek untuk mengunci pintu 48 kali.
Tapi ketika aku melihatnya, hal pertama yang melintas di kepalaku adalah tentang lekuk bibirnya. Tentang kelopak matanya, tentang bagaimana rambutnya jatuh begitu sempurna di pipinya. Saat itu aku menyadari, bahwa aku harus benar-benar berbicara kepadanya. Dan aku melakukannya.
Aku mengajaknya keluar sebanyak 6 kali dalam waktu 30 detik. Dia mengatakan Iya pada permintaanku yang ke tiga, namun aku merasa aku belum melakukannya dengan sempurna hingga aku terus mengajaknya keluar sebanyak 5 kali lagi lebih banyak.
Biasanya orang-orang akan merasa aneh dan ketakutkan ketika aku mengulang kata-kataku berulang-ulang kali, namun ia berbeda. Ia tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Ini adalah kali pertama di mana aku merasa telah melakukan sesuatu dengan benar. Di moment itu aku merasakan apa yang namanya tenang.
Di kencanku yang pertama, aku menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyusun makananku agar bentuknya terlihat seimbang dan selaras dengan warna-warna makanan punyaku ketimbang memakannya atau bahkan berbicara dengannya. Tapi anehnya ia menyukainya.
Ia menyukai bagaimana aku mencium bibirnya 18 kali atau bahkan 36 kali kalau itu hari rabu. Dia menyukai menghabiskan waktu yang sangat lama ketika mengajakku jalan-jalan ke taman bermain hanya karena aku sering diam ketika melihat banyak sekali retakan-retakan di aspal jalanan.
Ketika ia tinggal bersamaku, ia mengatakan kepadaku bahwa ia merasa aman dari pencuri karena aku selalu memastikan apakah aku sudah mengunci pintu atau belum lebih dari empat puluh kali. Aku selalu memperhatikan bibirnya ketika ia sedang berbicara. Ketika ia berkata bahwa ia mencintaiku, berkata bahwa ia mencintaiku, berkata bahwa ia mencintaiku, berkata bahwa ia mencintaiku, berkata bahwa ia mencintaiku, ketika itu bibirnya selalu bergelombang di tiap sisinya.
Setiap malam, ia tertidur dan melihatku menyalakan lampu lalu mematikannya lagi, menyalakannya lagi, lalu mematikannya lagi, lalu menyalakannya lagi, lalu mematikannya lagi, lalu menyalakannya lagi. Ia tak mempermasalahkan hal itu, ia malah menutup mata dan berimajinasi tentang siang dan malam hari yang terjadi begitu cepat di kamar kami.
Suatu pagi, seperti biasa aku menciumnya berulang kali. Namun kali ini ia pergi begitu saja. Ia mengatakan bahwa aku membuatnya terlambat datang ke kantor. Ketika aku terdiam melihat retakan di aspal jalan, ia tidak berhenti dan menemaniku. Ia tetap berjalan begitu saja. Berlalu begitu saja. Entah.
Ketika ia mengatakan bahwa ia mencintaiku, mulutnya tidak lagi bergelombang, mulutnya justru terlihat datar. Ia mengatakan bahwa aku ini terlalu banyak bicara dan itu menghabiskan waktunya. Minggu lalu, ia mulai tidak lagi tinggal di rumahku. Ia kembali tinggal di rumah neneknya.
Ia mengatakan kepadaku agar aku melepaskannya pergi karena ia merasa bahwa aku begitu terikat dengannya, karena aku begitu menggenggamnya erat-erat. Ia berkata bahwa semua yang telah kami lalui bersama kemarin adalah suatu kesalahan. Suatu kesalahan.
Tapi bagaimana bisa aku merasa bahwa mencintainya itu sebuah kesalahan?! Sebab setiap kali aku menyentuh apapun aku selalu mencucinya, aku telah terobsesi terhadap sesuatu, aku merasakan sekali setiap bakteri-bakteri yang merasuk masuk ke dalam sela-sela kulitku, aku melihat diriku berdiri di tengah jalan tertabrak mobil yang tak henti-hentinya, aku selalu melihat diriku berada di tepi jurang dan hanya tinggal masalah waktu saja sebelum aku jatuh ke dalamnya. Dan dia adalah satu-satunya orang yang aku tidak merasa harus mencuci tanganku ketika habis menyentuh kulitnya.
Jatuh cinta bagiku bukanlah sebuah kesalahan.
Dan kenyataan bahwa kini ia telah pergi meninggalkanku benar-benar membunuhku. Segala detak dan detik di kepalaku menjadi semakin tak terkendali. Bunyinya makin gila. Aku benar-benar tak bisa. Benar-benar tidak sanggup!
Aku tidak bisa pergi keluar dan menemukan seseorang yang baru karena aku selalu memikirkannya lagi dan lagi dan lagi.
Tapi dia! Dia adalah hal terindah pertama yang pernah terpahat di kepalaku. Satu-satunya hal indah yang bisa kepalaku ingat secara terus-menerus.
Aku ingin bangun di pagi hari memikirkan bagaimana ia pelan-pelan menyalakan kompor dan memecahkan telur dengan begitu rapih tanpa harus mengulanginya berkali-kali seperti yang sering aku lakukan. Bagaimana ia memutar knop pintu dengan begitu lembut seperti ia tengah membuka sebuah brangkas. Bagaimana caranya meniup lilin tanpa dihantui ketakutkan bahwa lilin itu belum sepenuhnya mati dan akan menyala lagi.
Sekarang aku berpikir akan ada orang yang menggantikan tempatku, seseorang yang akan mencium bibirnya, menggantikanku. Aku benar-benar tidak bisa bernapas karena aku tahu laki-laki itu hanya akan menciumnya sekali saja; tidak sepertiku. Laki-laki itu benar-benar tidak peduli apakah ciumannya itu sudah sempurna atau tidak.
Aku benar-benar menginginkannya kembali.
I want her back so bad.
Bahkan aku membiarkan pintuku tidak terkunci.
Bahkan aku membiarkan lampu kamarku terus menyala.
inspired from Neil Hilborn poem’s.
Komentar
Posting Komentar