Dia yang Terlalu Cepat Singgah

Pekerjaan ini sungguh membosankan sekali. Setiap hari aku harus melakukan hal yang sama. Mengepak buku-buku, memasukkannya ke dalam kardus, menyelotipnya, lalu belum lagi gudang tempat kerjaku panas bukan main

“Riszha..” sebuah suara yang sangat kuhapal memecah konsentrasiku yang sedang menumpukkan buku, tersontak sedikit aku karena kaget. Aku menengok mendapati senyuman dan sosok bayangan cantik dengan binar matanya yang memancarkan cinta diantara lampu pijar yang remang-remang memantulkan cahaya di kedua matanya dan surga di senyumnya. Ah, aku selalu suka caranya dia begitu.

“Lho, Shan, kamu boleh masuk oleh penjaga di luar?”

“Boleh kok, nih aku sudah di depan kamu. Di luar juga sudah sepi, jadi aku diizinkan.”

“Tumben. Ada apa sampai ke tempat kerjaku, Shan?”

“Tidak apa, habis aku bosan menuggu di rumah sendirian.”

“Yasudah, kamu menunggu di sudut sana saja ya, jangan kemari, cari tempat yang safety, ya.”

“Siap, bos.” Shania melakukan sikap hormat disertai senyuman hangat dan matanya menyipit. Bagaimana aku tidak tambah cinta dengan perempuan ini.


            Ya, dia adalah istriku, Shania. Kami sudah 1 tahun 6 bulan menikah. Pernikahan baru memang bisa di bilang, dan akan terus memulai yang baru sampai kapan pun kami bersama. Namun, kami belum di beri momongan, tapi kami tidak terlalu mempersalahkan hal itu. Sesuatu yang penting bagi kami saling menjaga, melengkapi satu sama lain, menerima kekurangan, mengisi di antara kekosongan yang ada. Bersyukur aku sudah memilikinya.
            
            Aku kembali pada pekerjaan ku, konsentrasi, karena salah sedikit bisa gawat. Pukul 19.00 sudah, Shania menunggu sabar di sudut sana. Lalu aku mengerjakan tugas terakhir hari ini. Kemudian..

“RISZHA, DI SANA ADA YANG MENGANGGUKU..”

Dari jauh terdengar suara Shania yang begitu nyaring, menoleh ke belakang aku tidak mendapati apa-apa, hanya ada suara kencang seperti barang berjatuhan, sigap segera aku berlari. Aku tidak melihat tubuh Shania di mana pun.

“Shan! Shan! Shaniaaa, kamu di manaa!!?? Shaniaaaa!!!!” Aku terus berteriak sambil menyingkirkan tumpukan-tumpukan kardus yang sangat berat dan buku-buku tebal.


Tubuh Shania kutemukan di sana. Terkapar tak sadar dan berlumuran darah.

***

            Aku terbangun, berkeringat, nafas tersengal-sengal, jantung berdetak lebih cepat. Shania, Shania, dia di mana?

“Hei pagi, Riszha, ayo sarapan.”

Ah, suara Shania, itu benar suaranya. Lembut, tidak terlalu cempreng, bulat. Lagi-lagi aku bermimpi seperti itu, mimpi yang selalu sama.

Aku turun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi yang terletak di samping dapur kecil rumah kami, di sana aku melihat punggung Shania sedang memasak sarapan favoritku, tercium dari aroma bawang putihnya. Dia sangat bisa membuat pagiku dengan sempurna. Dan hafal selera makananku.

“Cepat mandi Riszha, kalau tidak kamu akan terlambat, jangan diam terus seperti itu.” 

Shania melampar senyum kepadaku, senyum yang sama, serupa, namun ada yang aneh dengan matanya tidak sehangat dulu tidak memancarkan apa-apa.

***  

            Pagi yang dingin itu Shania menyiapkan sarapan favoritku, di hidangkan dengan cantik di meja makan. Makanan yang selalu sama, rasa yang sama, piring yang sama, segelas air putih yang sama. Tidak lebih, tidak kurang. Dan aku menikmatinya dengan cara yang sama.

Aku menatap Shania diam-diam, mengintip mata jelasnya, tidak kutemukan lagi pancaran cinta yang hangat dari mata itu. Tidak ada yang salah, dia tenang dan terampil mengupas apel dari tetangga sebelah.

Apa ini hanya prasangka buruk, tapi perasaan ini selalu mengusikku, aku hanya tidak ingin kehilangan istriku. Mimpi yang serupa juga terus datang berulang. Mungkin aku tidak bisa membuat Shania bahagia.

Belakangan ini ada laki-laki yang mendekati Shania, diam-diam aku mengetahuinya. Dia laki-laki yang tidak jauh dari tempatku bekerja. Mereka, ya aku tahu mereka rutin bertemu. Entah apa yang mereka bicarakan, entah apa yang mereka pikirkan.
Ketertarikan Shania terhadapku sudah mulai berkurang mungkin, atau dia hanya menemukan yang lain lalu mencoba hal yang tidak pernah di ketahui sebelumnya.

“Riszha makan buahnya ya.” Sentuhan lembut tangan Shania menyadarkan lamunanku. Dia tersenyum. Dingin.

“Shania”

“Apa Riszha?”

“Kamu, tak bisakah mencintaiku?”

“Jika aku bisa, aku mau. Tapi kamu tahu aku tidak bisa mencintaimu.” Tatapan Shania dingin, entah kenapa jadi tambah dingin. Entah.

“Apa karena ada hal lain? Apa lelaki yang secara rutin kau temui itu?”

“Kamu tahu, kamu tahu lelaki itu. Sudah Riszha. Kamu tahu semua.” Shania berlalu. Aku melihatnya kosong di matanya.

“JUJUR!! KAMU MELAKUKAN HAL APA BERSAMANYA?” Tanpa sadar aku memegang erat tangan lembutnya Shania. Seperti mau menikam.

“Lepaskan Riszha.”

“BENAR INI SEMUA KARENA DIA!?”

“Riszha, sadarlah. Kamu yang menginginkan ini semua, meminta dari sekian lama. Dan kamu tahu lelaki itu.”

“BISAKAH KAMU JUJUR DAN TERBUKA UNTUK MASALAH INI!??”

“Riszha, lepaskan. Kamu tahu.”

“AKU TIDAK TAHU!! AKU TIDAK TAHU YANG TERJADI SEMUANYA!! JUJUR SHANIA!!!”

Sepersekian detik tubuh Shania sudah di lantai, terkulai lemas tak sadarkan lagi, ia membentur tembok begitu kerasnya karena ulahku mendorongnya. Tertimpa piring gelas dan meja makan yang jatuh di atas tubuhnya. Kemudian aku teringat kembali mimpi itu.

“Shania bangun Shania, maaf aku minta maaf. Mohon bangunlah Shania” Aku menggoyangkan tubuhnya agar ia tersadar. Namun percuma. Aku hanya menangis lirih tanpa daya.

Tak ada darah mengalir dari tubuhnya. Yang ada hanya kabel-kabel yang mencuat keluar dan seperti konsletan listrik terciprat menghantarkan api.

***

*DRRTT.. DDRRTTTT… DDRRTTT*

Ah, notifikasi dari komputer berbunyi lagi. Kedua kalinya ini terjadi.

Aku segera berlari menuju rumah kakak ku begitu ada sinyal dari kerusakan dari Android Cyborg yang kuciptakan itu. Jangan sampai terlambat atau akan sulit nantinya.

Benar saja. Sesampainya, aku mendapati tubuh kakak ku tergeletak di lantai. Ia pingsan. Sesegara kupapah ia menuju sofa. Memastikan ia tidak apa-apa, memeriksa organ vital. Ah, syukur ia baik-baik saja.

Lalu aku mendekati Android Cyborg yang kuciptakan menyerupai kakak iparku, benda ini mengalami sedikit kerusakan. Tapi untungnya masih bisa ku atasi. Aku belum menyempurnakannya memang hingga mirip sekali dengan manusia. Masih rentan jika terkena benturan sedikit. Dengan cermat aku memperbaikinya. Layaknya memberikan pertolongan pertama pada manusia.

Ini bisa terjadi lagi berulang kali jika kakak ku tidak menjaganya dengan baik. Seharusnya aku tak menuruti permintaan gila kakak ku untuk membuat Android Cyborg yang menyerupai almarhum kakak iparku. Tapi aku juga tidak tega melihat dia sangat menderita, tidak mau kenal dengan dunia luar lagi,  sampai kuciptakan Cyborg ini, semua kembali normal.


Yaaah. Selesai sudah. Aku langsung pergi dari rumah kakak ku sebelum ia bangun tersadar, setelah aku membereskan sedikit kekacauan yang terjadi di sana.

***

Program di aktifkan..

“Pagi, Riszha.” Suara lembut yang ku kenal memanggilku.


“Ahh, Shania. Aku bermimpi lagi.” Aku melihat istriku tersenyum saat aku membuka mata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What the problem of being alone?

Perdana

Obsessive Compulsive Disorder