Kekasih Kumala

Sore pukul 16.55 WIB, perempuan itu khusyuk berdiri di teras rumah melihat turunnya hujan, hujan angin sungguh lebat. Tetapi perempuan berambut pendek sepundak yang bisa dibilang model bob, tidak perduli sama sekali. Bahkan, perempuan manis itu sangat menikmatinya. Menghirup bau tanah yang terkena air hujan, menenangkan, katanya. Bersamaan dengan itu, pria yang amat diidamkannya datang ke rumah. Lalu, perempuan itu tersenyum, menyipitkan mata, mempadatkan pipi chubbynya, dan menaikkan alis. Kalian tahu maksutnya? Sehabis mereka berdua berpelukan, dan memberi sedikit ciuman, masuklah perempuan serta pria itu, hingga hilang ditelan pintu rumah perempuan manis di sana.
***
“AKU SUDAH MUAK DENGAN ORANG DEPAN RUMAH ITU! MEREKA MEMFITNAH KELUARGA KITA, MENYEBARKANNYA KE SEMUA TETANGGA! KURANG AJAR!! AKAN KUBAKAR MEREKA!”
Aku hanya kalut, terpaku depan pintu kamar, mendengar ayah meledak bak gunung merapi. Aku mengeluarkan air mata, melihat ibu menangis sesedak seperti itu, tidak bisa menahannya. Ini sungguh kacau.

“Sabar Yah, kita memang lagi diuji, jangan sampai terpancing emosi amarah kita Yah..” kata Ibu sambil berlutut di lantai dan mendongak ke arah ayah sembari menarik-narik tangan Ayah.
“DIAM BU!! KAU JANGAN MEMBELA MEREKA. KITA SUDAH DIJATUHKAN! DIMANA HARGA DIRI SAYA SEBAGAI KEPALA KELUARGA.” Ayah laksana halilintar yang begitu kencang.
“sudah Yah.. Sudaaahh..” Ibu yang menangis semakin deras.
“Kemarin aku sempat lihat orang depan rumah itu ke rumah ini. Lelaki yang sangat tengil.  Mau apa dia? Apa jangan-jangan kau main belakang dengannya!?”
“Tidak Yah, tidak ada-”
“AAHHHH DIAM!!”
Seketika aku tersentak, sepersekian detik Ibu sudah terkapar di lantai, Ayah memincingkan matanya ke arahku, kemudian Ayah berlari ke belakang rumah, mengambil senapan kepunyaannya. Ayah mencekik Ibu, dan kurasa Ibu sudah tak bernyawa. Aku tak berdaya di atas lantai. Mataku melotot, keringat dingin mengucur, semua badan lemas. Ibu sudah berceceran darah,  jatuh lemas terkulai. Air mata Ibu jatuh ke lantai juga. Aku, pikiranku terbang melewati atap rumah.
***

Nama perempuan itu Kumala. Aku sudah hampir 20 tahun mengenalnya. Dia perempuan yang menyenangkan, menurutku,  juga lelaki lain, mungkin. Karena, setiap aku ke rumah kumala, selalu ada lelaki asing di kamarnya. Sebelumnya, aku tinggal di kontrakan tak  jauh dari rumah Kumala. Ia yang memberiku rumah kontrakan itu. Memberiku baju. Memberiku makan. Memberiku ponsel. Memberiku kehidupan yang baru.  Ah! Semuanya hidupku pemberian darinya. Kumala! Kumala!
Dia sangat rajin mengumpulkan kayu bakar di halaman belakang rumah. Sesekali, aku turut membantunya, dan ia tersenyum padaku. Sekiraku, ia suka pada pertolongan kecilku ini, buktinya Kumala sampai tersenyum. Ah, iya, dia begitu manis dengan rambut sepundaknya.
***

Sejak kejadian kacau, amat teramat kacau, Ayah pergi dari rumah, dan tidak pernah kembali. Sebelum pergi, ia berhasil membakar tetangga depan rumah. Aku merasa sepi dan tidak tahu ingin berbuat apa, walaupun jasad Ibu terbaring di ruang tamu. Pada akhirnya aku mengikuti jejak Ayah, pergi dan tidak pernah kembali. Keluar dari desa, jalan yang kuharap menemui ujungnya. Sampailah sudah aku di kota yang cukup besar, setelah diperbolehkan menebeng truk, dengan sopir yang setengah mabuk. Entah kenapa aku bisa menumpang yang disopiri pemabuk, pikiranku sedang terguncang. Di turunkan lah di pinggir jalan raya. Aku melihat, sepertinya orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ah, persetan dengan orang-orang ini semua. Saat aku sedang termangu di sudut jalan, ada perempuan yang memberhentikan mobilnya tepat di depan hadapanku. Ia Kumala. Aku pertama mengenalnya di sebuah kota besar ini. Ia membuka kaca mobil dan tersenyum, aku bingung. Ia mengajakku, menjajikan semua yang kumau. Sempat aku ragu, aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi kuturutilah kemauan perempuan ini. Setelah sampai di tempatnya, ia berkata “ini semua milikmu, tampan. Apa yang kau mau, kau akan mendapatkannya. Bilang saja ya, tampan.”
Ya, memang benar. Semua yang ia miliki adalah milikku. Dua puluh tahun sejak Kumala
menemukanku di jalan dan membawaku ke istananya, hidupku tak pernah kekurangan. Apapun yang kuinginkan, segera saja terkabul oleh Kumala. Ia seperti jin lampu ajaib. Ah, tahukah engkau? Tidak hanya jin lampu ajaib, melainkan Kumala adalah kekasihku pula.
***
Hampir jam 00.50 WIB, ponsel Kumala tidak bisa di hubungi dari pagi hari. Aku gelisah di kontrakan, karna ia tak ada kabar. Segeralah aku ke rumahnya. Kebetulan, aku memegang kunci rumahnya yang ia beri sendiri.
“Ini tampan, kunci rumahku. Kalau ada apa-apa ke rumah saja, ya.” sambil mencium bibirku.

Ponselku berdering, Kumala mengabarkan ia akan pulang larut, dan ia akan memesan makanan untukku. Aku memang lapar betul, tapi tak nyaman bila makan tanpa Kumala. Jam 1.15 WIB, bel rumah Kumala berbunyi. Segeralah aku bangun dari sofa, nafasku terengah-engah, langsung menyambar pintu dan membukanya. Terlihat orang membawa makanan, sepertinya makanan yang dipesan Kumala tadi. Tetapi ada yang aneh, pengantar makanan cepat saji ini tampak heran, ia cepat sekali mengambil uang dari tanganku kemudian pergi terburu-buru. Memperlihatkan wajah ketakutan. Ada apa?
***
Seminggu kemarin, Kumala tidak pulang ke rumah. Apa yang terjadi dengannya. Sekarang aku memastikan lagi ke rumahnya. Masih kosong. Lalu, aku memutuskan untuk sementara di rumah Kumala sampai ia kembali.
Jam 3.15 WIB, bel dari luar rumah Kumala berbunyi. Aku terkejut, langsung aku singkapkan selimut, dan berlari kecil menuruni tangga rumah Kumala, aku terburu-buru. Aku putar kunci pintunya, kemudian membukanya. Ah, benar, dia Kumala, sudah pulang. Dan benar juga, ia bersama lelaki lain. Hal yang lumrah kusaksikan memang. Kumala saat itu sedang mabuk, tergopoh-gopoh ditenteng lelaki asing. Mereka berjalan melewatiku begitu saja, Kumala memberiku senyuman, lalu pergi ke kamar bersama lelaki yang menopangnya. Terdengar Kumala tertawa dari kamarnya. Aku berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Tak lama, terdengar suara lenguhan dan desahan, setelah itu mereka hening, lalu bunyi suara senapan. Seketika aku terkejut, diam, seperti tersihir oleh suara itu. Aku mengendap ke kamar Kumala melihat apa yang terjadi, ternyata pintunya tidak dikunci. Aku melihat Kumala yang terlampau dekat, duduk di atas perut lelaki asing itu, tanpa sehelai benang pun. Namun, mulut lelaki itu menganga, matanya membelalak, darah banyak keluar dari kepalanya.
“Kemarilah, tampan.” Kumala melihat ke arahku.
Tahukah engkau? Aku tersihir oleh Kumala yang tanpa busana. Meski sebagian pikiranku masih terguncang sebab sekali lagi, setelah dua puluh tahun lamanya, melihat seseorang mati
begitu saja di depanku. Aku ingat Ibu. Namun Kumala memanggilku dengan suaranya yang tiba-tiba saja terdengar seperti suara Ibu.
Aku berjalan mendekati Kumala. Meski Kumala telah berusia 40 tahun, tak kurang sedikit pun godaan terpancar dari setiap lekuk tubuhnya yang padat berisi. Kumala tersenyum saat aku telah naik ke atas kasur dan duduk di sampingnya. Begitu saja ia meraih wajahku dan mengecup bibirku, lantas melumatnya hingga habis. Sejak itu, Kumala tak lagi hanya memanggilku dengan ‘Tampan’, melainkan 'Kekasih..’
***
Pikirku, setelah aku berhubungan dengan Kumala layaknya suami-istri, ia tidak lagi membawa lelaki lain ke rumahnya. Sudah hampir pagi, lagi-lagi – seperti biasa Kumala mabuk, dan ditenteng lelaki asing lainnya. Kini aku tidak begitu senang melihatnya, aku ingat apa yang telah Kumala lakukan kepadaku.
“Siapa lelaki ini, Kumala?”
“Ada apa, Tampan..” katanya, arah pandangnya tidak fokus, sembari mengelus pipi kananku.
“Ada apa? Aku ini kekasihmu, Kumala!”
“Yaa.. kamu ke.. ka.. sihkuu… Kekasih kuuu.. ihiik..” 
“Benaar. Suruh lelaki ini pergi.”
“Apa urusanmu!”
Aku terkejut Kumala menghentakku begitu. Sebelumnya ia tidak pernah seperti itu. Kemudian, mereka menuju ke kamar. Seperti biasa, suara Kumala tertawa terdengar begitu kencang. Lalu, desahan serta lenguhan Kumala menjadi-jadi. Beberapa saat, suara ledakan terdengar. Kumala – lagi-lagi bermain dengan senapannya. Kulihat, ia menyeret lelaki itu keluar, dengan berceceran darah di lantai. Membuat jejak seretan ke halaman belakang rumah. Kumala mengumpulkan kayu bakar, diletakkannya lelaki itu di antaranya. Kumala mengambil dirijen di gudang yang isinya bensin. Disiraminya tubuh lelaki itu, lalu menyalakan api dan membakarnya. Begitu saja.
***
Pukul 02.30 WIB. Kudengar bel rumah berbunyi.
Aku bergegas keluar dari kamar dan berlari menuruni tangga. Itu pasti Kumala. Ah, aku sedang sangat rindu dengannya. Aku ingin mencium bibir merahnya itu dan mendekap tubuh matangnya yang tak pernah gagal memunculkan birahiku. Aku membuka pintu, Kumala terhuyung-huyung masuk dipapah seorang lelaki. Sejenak aku berusaha mengingat wajah lelaki itu. Telah dua tahun berlalu tapi aku masih mengenalnya. Tentu saja, siapa yang bisa lupa dengan ayahnya sendiri yang dengan membabibuta membunuh istrinya sendiri.
Kutatap wajah lelaki itu, yang membalas tatapanku. Ia tampak terkejut. Syukurlah, sepertinya ia mengenaliku dengan tepat.

“Selamat malam, Ayah.”

Tiba-tiba, tangan kiriku bergerak dan mengambil asbak rokok besi berat di meja dekatku. Kuhantamkan asbak itu ke kepala Ayah. Kumala memekik. Ayah terjatuh ke lantai. Aku berjalan ke dalam kamar Kumala dan mengambil senapan lalu keluar menghampiri Ayah dan kutembak kepalanya. Begitu saja. Ayah tak bergerak lagi. Aku seret tubuhnya ke halaman belakang dan kuletakkan di antara kayu bakar. Aku siram dengan bensin dan kujatuhkan sebatang korek api kayu menyala. Terbakarlah Ayah bersama kayu bakar dan sampah. Asap membubung ke udara, membentuk wajah Ibu. Kumala memelukku dari belakang. Kurasakan hangat di dada dan di mataku.

“Tenanglah engkau, kekasih, aku ada di sini.” Seru Kumala.

Kulepaskan pelukan Kumala dan kutarik tangannya, lalu kudorong ia ke dalam kobaran api. Aku saksikan ia berteriak saat api menjilati tubuhnya dalam balutan gaun merah saga. Entah kenapa aku tiba-tiba saja tersenyum.

“Terima kasih, Kumala, kekasihku, untuk senyumanmu dan bertahun-tahun kehidupan yang kau berikan. Kini bersatulah dengan Ayah, Ibu. Bersatulah engkau, Kumala, dengan orang-orang lain yang kucintai dan telah pergi ke surga.”


Aku mendongak. Airmataku keluar. Kulihat langit, hujan rintik turun. Nampaknya langit menurunkan tangis bahagia. Kemudian aku merentangkan tangan dan berdiri khusyuk di halaman belakang rumah dengan bermandikan hujan darah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What the problem of being alone?

Perdana

Obsessive Compulsive Disorder