Musibah
Seperti kehidupan-kehidupan
orang lainnya, gue menjalani hari gue juga seperti biasa. Bangun pagi ( it’s
not so early morning I thought ) kalo lagi niat ya gue olahraga, main basket,
atau sekedar cari keringet kecil di halaman rumah. Atau cukup main basket di
game. Yes, indeed. Lalu berangkat untuk memenuhi tanggung jawab yang gak
mungkin di telantarkan.
“Go go, Bi, gue pengen balik cepet.”
“ayo ayo.”
Lekaslah kami berdua pulang.
Di mana ga ada masalah, semuanya masih berjalan lancar,
angin yang bertiup lebih kencang dari biasanya. Cuaca masih sama seperti hari-hari
sebelumnya. Ada masalah juga masih bisa di selesaikan dengan aman. Tapi, sampai
masalah satu ini datang..
“What? Where is my wallet?” ujar gue dalem hati setibanya di
rumah setelah membuka pintu kamar.
Gue mengecek semua saku, saku jaket, sampai tas isinya gue
muntahkan semua. Nothing. Gue cek ke dashboard
motor juga ga ada. Kemudian otak gue bekerja pasif dengan sendirinya,
mematikan semua rasa di tubuh gue. Serasa darah pun berhenti mengalir. Anta rasanya. Itu di mana perasaan lo
benar-benar mengambang. Like, seriously I can’t feel my heart beat. Kenapa gue
sampe begini? Pikiran gue langsung menembus atap rumah, melayang-layang.
Kalian pasti punya yang namanya barang bernilai history, ada
cerita di baliknya. Dan kalian memang kalau kehilangan barang tersebut, akan ga
tau mau melakukan apa. Yang bisa dilakakukan hanya komat-kamit dalam hati, baik buruk kata.
Itulah yang gue rasain saat kehilangan dompet. Bukan nilai
pecahan uang yang ada di dompet, nilai uang yang ada di dalam ATM. Tapi,
history dan.. ngurus semua kartu data-data yang terselip di dalam dompet itu
semua yang membuat gue kepikiran. Terlalu banyak What If di kepala gue. Pikiran langsung mengakar kemana-mana,
sampai ujung kehidupan. Sebab, hal-hal penting segala bentuk kertas kecil
maupun catatan-catatan kaki ada di dompet. Sudah, gue sudah berpikir dengan
keras, energi habis tok mikirin itu
dompet. Lemes. Lucu ga sih, saat lo di jalan menuju rumah, di jalan sembari memikirkan hal-hal kecil ‘apa
yang akan gue lakukan setelah ini’ sesampainya di rumah, itu semua hilang rasa
sudah. I don’t know what should I do.
Pengen rasanya marah. Entah ke siapa, yang pasti sudah benar
menyalahkan diri sendiri. Saat kita marah, secara sadar atau nggak, kita akan
memperbuat hal-hal yang tidak diinginkan, lalu kita akan mengeluarkan kata-kata
kasar yang tajam setajam pedang yang diasah sejuta tahun lamanya, dan kata-kata
yang tak kasat mata ini akan menyakiti orang lain. Parahnya lagi yang kita
marahi adalah orang yang kita sayang. Hampir gue melakukan hal itu, membanting
laptop. Alam sadar bawah gue masih mengontrol gue dengan benar. Di saat seperti
ini, gue lebih memilih diam. Toh, emang diri sendiri gue yang salah, kenapa
harus barang menjadi tempat sampahnya. Gue mengakui kesalahan diri gue.
Gue mencoba membuka pikiran gue kembali, mengingat apa yang
terakhir gue lakukan. Gue menyadari, gue adalah orang yang pelupa walaupun
masih muda. Orang yang terlalu cuek terhadap hal kecil, entah kenapa, gue
orangnya cuek dahsyat. Teledor easily.
Ingatan gue kembali saat gue sepulang tadi, mampir ke warung
di pinggir jalan—yang warung tersebut memang ga jauh dari rumah gue. Oke, di
sana gue membeli sesuatu untuk di makan. Oke, oke, dan.. yha, dompet gue
ketinggalan di sana. Kali ini gue inget banget kok gue naruh dompet gue di mana. Gue yakin seribu persen di sana, di atas etelage. Yes, I have to come back,
menanyakan dan menjemput dompet itu.
“Mas, liat dompet saya ga, yang barusan saya beli di sini?”
“Dompet? Ga ada mas, saya ga lihat apa-apa daritadi.”
“Serius mas? Baru aja ga lama saya beli di sini, saya inget
pas minta kembalian saya taro dompet saya di sini.” Ya, gue menunjukan di mana
letaknya dengan pasti.
“Bener saya ga lihat, Mas. Kalo ada pun saya pasti liat. Soalnya
ada waktu itu juga barang yang ketinggalan saya amanin sampe orangnya balik
lagi. Tapi ini bener ga ada, gak lihat.” Ujar Mas yang punya warung.
Seperti ada tombol turn off, otak gue menekan tombol
tersebut. Gue diam seketika, hening di dalam kepala. WHAT? Why this shit happen
to me? Good game, semesta. Good game. I’ve been lost so much. Merasa data diri
gue dihapus sebagai Warna Negara Indonesia. Iyalaaah karna semua data di situuu.
I wanna cry, but I can’t. di mana lo mau nangis tapi air mata lo bilang, jangan dulu,
pasti masih ada jalan keluar. Malah gue menertawakan kejadian ini.
Ya ya ya. Apa yang harus gue lakukan. Oke, calm down, relax.
Ini seperti setengah kehidupan terambil dari diri lo. Tapi harus stay cool,
breath normally.. and die. Gue mau reinkarnasi
jadi kucing persia aja.
Jadi, gue mencoba untuk ga sepanik seperti orang yang baru
kehilangan dompet. Di sini gue menegaskan, Tuhan ga akan ngasih masalah/musibah
diluar kemampuan umatnya. Tuhan tau cara baik yang harus di lakukan umatnya. Gue
berdoa.
Setelah bolak-balik ke warung tadi menanyakan apa benar dia benar-benar ga lihat. Gue menenangkan
diri. Gue sudah harus memikirkan apa yang harus gue lakukan besok. But, benar
gue berusaha cooling down semua masalah yang baru saja gue hadapi, gue ga
panik, gue memikirkan hal-hal baik, berdoa, dan yakin dompet gue ada di tangan
yang benar.
Sudah larut malam, sepertiga pagi, ga ada yang bisa gue
lakuin lagi selain sedari tadi gue googling tentang “langkah-langkah mengurus
dompet yang hilang” yaa, gue googling. Sehilang arahnya gue itu.
***
Morning comes, light shines through my window. Gue masih
setengah sadar. Ah, iya kejadian semalam terlintas di pikiran sekelebat, gue
yang baru membuka mata dikit. Keribetan-keribetan sudah muncul pagi itu di
kepala. Mengurus hal-hal yang seharusnya tidak gue lakukan, jadi gue lakukan. Tidak
ada yang berarti lagi. Itu adalah pagi di mana gue merasa hampa, hilang. Ga pernah
sebelumnya rasa seperti ini singgah. Energi pun tak ada. Ya, tapi kalau semua
ini tidak di urus, gue akan dihapus sebagai Warga Negara. Gue ga punya
identitas, gue adalah penduduk gelap. I should to do this.
Pukul 7.24 pagi.
Segar rasanya membasuh muka dengan harapan-harapan yang
hilang.
“Permisi..” gue mendengar sahut dari depan rumah gue.
Gue mendengar tapi gue abaikan, karna tidak ada yang lebih
penting dari kerjaan yang harus gue lakukan pagi ini.
“PERMISIIII..” orang ini teriak. Ganggu sekali pikir gue. Apa
ia hanya salah alamat.
“MISI, MAS RIZAL?!” What? Orang ini manggil nama gue?
Larilah gue dari kamar ke depan pintu pagar.
“Iya, Mas, ada apa?” Kata gue
“Dengan Mas Rizal, betul?” Dia memastikan.
“Bener itu saya. Kenapa, Mas?” Gue bingung setengah mampus.
“Ini saya ada nemuin dompet semalem, jatuh di depan warung,
saya liat alamatnya di sini. Ini saya mau ngembaliin dompetnya, Mas. Di cek
dulu apa ada yang kurang isinya.”
The end.
Tamat.
Kelar.
Gue seneng sampe ujung kepala. Yang tadinya gue mikir
kehidupan gue akan cepat berakhir setelah kehilangan dompet. Tersambung lagi
oleh orang super baik ini. God? You hear my pray? Konsep yang bagus, Tuhan
menciptakan cerita dengan halus. Keribetan, kepusingan, kecemasan, kegelisahan,
kepikiran, masalah, cara yang dihadapi. Gue
speechless.
“Mas ini ambil. Terima kasih banget, Mas.” Dan orangnya ga mau
ambil imbalan ini. Gue merasa bersalah sekarang. Tapi tertolong. Ini orang baik
banget, Mas.
Ya, sudah. Ketidak-tenangan gue sudah hilang menguap.
Bener deh. Kalo kita tenang, ga panik, berdoa, tetep
positif, yakin ini memang ga seharusnya terjadi , cari solusi, pasti ada
jalannya buat itu semua. Selama lo ga berfikir negatif, terus berkata-kata
kasar, atau nyumpahin orang lain yang
bersangkutan dengan kita. Ngeluh boleh, tapi harus tetap cari solusi, jalan
keluar, jangan melulu mengeluh. Itu akan tersambung ke diri kita. Jalan cerita
alam tuh keren, kok. Tuhan ga pernah salah, Ia ga pernah salah ngasih apapun. Itu
yang gue tegaskan ke hati gue. Dan gue
yakin semalam, itu dompet pasti akan balik ke gue. Siapapun orangnya, dia adalah
sudut pandang orang ke 3 yang di buat Tuhan untuk mengantarkannya ke gue.
Komentar
Posting Komentar